Jogja Part 1 : Bangunan Aneh itu Bernama Gereja Ayam

Setelah sekian lama Ferdi tidak berkunjung ke Jogja, dia meminta saya untuk mengantarkan ke Gereja Ayam dan Peziarahan Sendang Sono pertengahan Agustus 2014. Kali ini dia wajib ke sana. “Penasaran”, katanya. Beberapa tahun lalu dia cukup sering mondar-mandir Jakarta-Jogja, tapi dua tempat itu ternyata luput dari perhatiannya. Ketika saya memposting foto dua tempat itu di media sosial, dia semakin penasaran.

Gereja Ayam dan Peziarahan Sendang Sono letaknya tidak terlalu meskipun berada di kabupaten yang berbeda. Gereja Ayam di Muntilan, Kabupaten Magelang sedangkan Peziarahan Sendang Sono di Kabupaten Kulon Progo, DIY. Kami sempat bingung dengan jalur mana yang kami pilih. Jalur pertama Gereja Ayam – Sendang Sono, atau jalur kedua Sendang Sono – Gereja Ayam. Pilihan kami jatuh ke jalur pertama karena lebih mudah menuju Gereja Ayam, saya juga lebih hafal jalannya. Hehehe..

Menuju Gereja Ayam cukup mudah karena awal tahun saya sudah datang dan sempat tersesat saat mencari tempat ini. Gereja Ayam tidak jauh kompleks Candi Borobudur, tapi tempatnya cukup terpencil. Gereja ini dibangun di atas bukit di sebuah desa kecil dengan sedikit penduduk. Ferdi sempat ragu ketika saya tunjukkan jalan setapak mendaki. “Benar ini jalannya?”. Kalimat itu terlontar karena tidak percaya ada gereja yang dibangun dengan melewati jalan setapak berbatu. Ketika berada di tengah bukit ada sedikit area yang terbuka. Awal tahun saat saya ke sini untuk pertama kali semua area di kanan kiri jalan tumbuh pohon-pohon jati.  Saya bertanya-tanya untuk apa area ini dibuka?

Saya ngos-ngosan waktu sampai di puncak bukit, maklum lama tidak olahraga, padahal saya berjalan hanya sekitar 500 m. Ferdi tertawa melihat saya harus mengatur nafas. Dia sempat “mlongo” melihat bangunan kepala ayam yang besar. Matanya berbinar-binar seperti menemukan harta karun. Ya, target pertamanya sudah terpenuhi. Tanpa membuang waktu lama, dia langsung mengeluarkan senjatanya. Diambilnya foto bagian depan dengan bangunan dari berbagai sudut. Dia juga sempat mengambil foto sekitar bukit ini yang memang indah…

Sudah puas dengan sisi depan bangunan. Ferdi mulai ke bagian belakang bangunan. Saya terpaksa mengikutinya daripada ditinggal sendirian di depan. Ferdi langsung masuk ke dalam bangunan. “Gampang sekali anak ini melewati lubang di tembok”, gumam saya dalam hati. Saya butuh sedikit perjuangan, harus memanjat karena posisi lubang cukup tinggi dan kaki saya tidak panjang. Nasib saya! Kali ini Ferdi lebih semangat, mondar mandir di dalam ruangan kosong yang setengah jadi, memotret ornamen. Dia sangat tertarik dengan lubang di atap bangunan. Saat cahaya matahari masuk melewati lubang itu, di lantai ada bayangan berbentuk salib. Dia berusaha mendapatkan foto salib itu dari sisi atas, tapi sulit. Banyak ujung besi cor yang menghalangi Ferdi saat memanjat tembok. Saya mengamati Ferdi dari pojok ruangan, mulai deg-degan tidak nyaman, berharap dia segera puas memotret ruangan ini. “Ini tangga ke ruangan mana?”, dia mulai penasaran dengan tangga yang belum jadi di ruangan ini. “Waduh gak tahu. Gak pernah turun dan gak berminat. Gelap. Udah gak usah turun.” Semoga dia gak nekat turun ke bawah! Untungnya dia gak jadi turun.

Akhirnya saya keluar dari bangunan dalam. Pertama kali ke sini saya tidak selama ini ada di dalam. Sisi bangunan selanjutnya adalah Ekor ayam dan sisi samping. “Aku tunggu di bawah pohon ini sambil istirahat & foto ekor ayam. Kamu keliling & foto-foto sendiri ya.” Saya mulai lelah, letih padahal gak ikut mondar mandir. Saya mengamati ekor ayam & bangunan ini sambil menunggu Ferdi keliling. Bagus juga tempat ini dari belakang tapi Edan..Niat banget pemiliknya bangun di sini.

Ferdi mulai keliling di sisi sebelah kiri bangunan, maaf saya gak paham arah mata angin di sini. Wuih berani banget dia ke situ. Saya dulu aja gak ke situ. Gak berani lebih tepatnya. Hehehe. 10 menit kurang dia sudah balik lagi. “Lho kok cepet?” “Iya. Ayo temenin aku motret. Sisi ini menarik. Ornamennya juga asik. Ada beberapa pintu ke dalam, aku pengen masuk.” Ferdi mulai merengek minta ditemani. Jelas & pasti saya langsung menolak dengan berbagai alasan. Kalau ikut, copot jantung saya, ini aja sudah deg-degan. “Udah aku tunggu di sini. Kamu foto sendiri aja. Kalau sampai 15 menit kamu gak balik, aku ke sana terus turun minta bantuan warga buat temani aku masuk.” Semakin dia merengek, semakin saya menolak. Dia akhirnya capek merengek. “Tunggu aku di sini sekitar 10 menit ya. Jangan kemana-mana.” Sekali lagi, belum 10 menit dia udah balik lagi & ajak pulang. “Cepet banget? Udah selesai foto-fotonya? Lanjutin dulu, aku tunggu di sini.” Saya tanya basa-basi padahal senang banget dia ajak pulang. “Iya. Udah cukup. Kamu sih gak mau temenin.” Nah lhoo.. Cukup apa takut? Hehehe. Waktu saya berdiri, dia mulai mengajukan permintaan aneh lagi. “Kita pulang lewat sebelah sini. Kamu kan belum pernah lewat sini. Belum tahu kan.” Mati aku.. Kok ya ajak lewat sisi itu. “Lewat yang biasanya aku lewati aja. Gak ada rumput-rumput tinggi.” “Lewat sini aja. Kamu harus lihat sisi ini. Kapan lagi kamu lewat sini. Aku temani.” Duh.. Anak ini kurang kerjaan ajak lewat sini. Pakai alasan macam-macam. Dengan terpaksa saya penuhi permintaannya daripada dia mulai iseng, turun lebih dulu. Tapi ada syarat: Dia harus jalan persis di sebelah saya, harus jalan, gak boleh tiba-tiba lari. Saya sempat berhenti & ragu mau lewat jalan ini, tapi penasaran juga. Akhirnya, saya jalan pelan-pelan sambil lihat sisi bangunan ini. Jalan terus dan tidak berhenti! Sepintas bagus juga sisi ini. Langkah kaki ini tambah cepat tanpa diperintah, jantung tambah deg-degan. Jalan di sini terasa lamaaaa sekali. Saya lihat Ferdi, dia meringis, meringis gak jelas.

Akhirnya sampai juga di bagian kepala ayam. Saya pengen buru-buru turun. Jam masih sekitar jam 2 siang, tapi rasanya sudah jam 4 sore. Eehh Ferdi masih sempat-sempatnya ambil beberapa foto kepala ayam. “Buruan. Udah mulai sore nih.” “Bentar. Masih siang ini. Kenapa takut ya?” Aseeemmm.. Sudah bikin tambah deg-degan, masih sempat-sempatnya ngece. Kalau kunci motor saya yang bawa, anak ini sudah saya tinggal di sini. “Buruan!” “Ya. Udah kok. Ayo pulang kita ke Sendang Sono.” Akhirrnyaaaaa…

Sepanjang perjalanan ke Sendang Sono kami ngobrol panjang lebar tentang Gereja Ayam tadi. Ternyata Ferdi sebenarnya takut juga waktu ambil foto di sisi bangunan. Waktu dia di depan pintu, dia kerasa gak nyaman, singup. Jadi dia buru-buru pergi & minta ditemani. Untung tadi gak nemenin dia foto-foto, bisa-bisa kaki ini gemetaran terus, mulut ngomel terus minta dia cepet-cepet selesai. Sampai sekarang kami masih menyimpan banyak pertanyaan tentang Gereja Ayam. Untuk apa sebenarnya bangunan itu? Kok bentuknya aneh? Kok dibangun di atas bukit,di tengah kebun pohon jati? Kenapa membangunnya gak selesai? Apa benar itu untuk gereja? Kenapa di bagian tengah bukit sekarang dibuka? Kami sempat bertanya ke warga sekitar, tapi kami tidak mendapatkan jawaban memuaskan.

Keasikan ngobrol, kami lupa berhenti sebentar di jembatan Sungai Progo padahal view-nya bagus.. Sudah cukup-lah saya 2x ke tempat itu. Mikir-mikir lagi kalau ke sana. Tanpa kami sadari, trip pertama ini ternyata sedikit seram. Di tulisan ini saya tidak bercerita Apa Sebenarnya Gereja Ayam. Kalau kita browsing di mbah Google dengan kata kunci Gereja Ayam Magelang atau Gereja Burung Magelang, pasti akan muncul link-link dengan berbagai versi cerita. Kebenaran cerita dari link-link itu masih dipertanyakan. Biarlah cerita sebenarnya Gereja Ayam menjadi misteri. Nanti tempat itu akan semakin ramai dikunjungi wisatawan dan suasana seram bisa semakin berkurang. Semoga bangunan ini juga tidak semakin penuh dengan corat-coret di tembok.

Advertisements

13 responses to “Jogja Part 1 : Bangunan Aneh itu Bernama Gereja Ayam

  1. Pingback: Mysterious, Abandoned Indonesian Church Shaped like a Giant Chicken - seekape·

  2. Pingback: Mysterious, Abandoned Indonesian Church Shaped like a Giant Chicken | sladisworld·

  3. Pingback: This Mysterious, Abandoned Church Shaped like a Giant Chicken - Revirality·

  4. Pingback: Pretty one-of-a-Kind Indonesian Chicken | buzzmilk·

  5. Pingback: Very unique indonesian chicken | Amazing·

  6. Pingback: Highly cute indonesian chicken | Amazing to know on earth·

  7. Pingback: Highly cute indonesian chicken |·

  8. Pingback: Pretty genuine indonesian chicken – AmashPro.com’sLifestyle Articles Become Reader’s First Choice·

  9. Pingback: Very stunning indonesian chicken·

  10. Pingback: Amazing Superb Indonesian Chicken | topholidaytour.com·

  11. Pingback: Quite wonderful indonesian chicken - NICE PLACE TO VISIT·

  12. Pingback: Amazing simple Indonesian chicken |·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s