Desa Adat Kemiren dan Ngopi 10.000 (Sepuluh Ewu) Cangkir

Salah satu rencana bagus bulan ini, mengunjungi Festival Banyuwangi Sepuluh Ewu Cangkir Kopi yang diadakan di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi. Ini adalah salah satu rangkaian Banyuwangi Festival dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi yang ke 243, sebagai sarana publikasi dan memperkenalkan Kabupaten Banyuwangi secara nasional, regional maupun internasional dan diharapkan lebih mampu membangkitkan perhatian dan menjadi jendela dunia bagi Kabupaten Banyuwangi yang diadakan oleh pemerintah Banyuwangi sendiri. Banyuwangi Festival ini sendiri sudah diadakan mulai beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Mei 2014 kemarin, dengan banyak sekali rangkaian acara yang sangat menarik, untuk lebih detailnya silakan kunjungin website Banyuwangi Festival 2014

Kami sengaja berangkat dari Denpasar pada hari Sabtu, 22 November 2014 karena Festival Sepuluh Ewu Cangkir Kopi ini dimulai pada hari Minggu, 23 November 2014. Sekitaran pukul 18.00 WITA dengan menggunakan sepeda motor kami meluncur menuju Banyuwangi. Mestakung…! Cuaca cerah dan kondisi jalanan tidak begitu ramai sehingga kami bisa melenggang dengan lancar. Tiba di pelabuhan Gililimanuk sekitar pukul 23.00 WITA, dan hebatnya… sampai di Ketapang – Banyuwangi pukul 23.00 WIB, heuekekeke… menghemat 1 jam karena perbedaan waktu. Tiket penyeberangan untuk waktu itu Rp. 25.000,- untuk 1 motor. Sampai Ketapang kita langsung meluncur ke rumah singgah di daerah Kepatihan milik Mas Kisma–senior guide di Banyuwangi. Dan ternyata kami sudah ditunggu oleh beberapa teman yang sudah berada disana.

Pada pagi harinya kami sempat sedikit berkeliling di Desa Kemiren, kami diajak ke rumah Kang Pur-Kepala Adat Kemiren. Disana kami banyak mendapat info tentang Festival yang akan berlangsung nanti malam, yaitu Festival Sepuluh Ewu Cangkir Kopi. Selain itu kami juga mencari beberapa info tentang Desa kemiren itu sendiri. Saat itu kami kebarengan dengan orang orang keren… Mereka adalah Om Rio Helmi dan juga Om Surianto Kartaatmadja. Keduanya orang hebat tiada tara 😀 (baca sendiri profilenya) Setelah dari rumah Kepala Adat Desa Kemiren kita melanjutkan perjalanan naik terus ke arah atas menuju ke Kali Bendo. Melewati beberapa wisata alam seperti Air terjun Kampung Anyar dan juga perkebunan kopi PT. Kalibendo. Jalan yang tidak begitu lebar, hawa yang sejuk dan pemandangan alam yang cukup indah, tapi sayang cuaca waktu itu sedikit medung, tapi untungnya tidak turun hujan.

Desa Kemiren masih termasuk dataran tinggi dengan udara yang masih dingin dan sejuk. Masih banyak sawah dan juga perkebunan disana. Masih kental dengan adat dan budaya daerah. Yah memang seharusnya tetap harus dijaga untuk seterusnya. Jalan lintas di desa ini bisa tembus ke kawasan wisata Kawah Ijen yang berada di Banyuwangi, bisa juga menjadi jalur alternatif ke kawasan Gunung Ijen.

Kami sengaja pergi ke Kemiren karena tertarik dengan festival ini. Belum pernah ada festival seperti ini yang diadakan di suatu desa. Warga satu desa saling membantu dan bergotong royong untuk mensukseskan festival ini. Jam 5 sore warga mulai menyiapkan meja & kursi di depan rumah. Kopi dan aneka camilan tradisional seperti bolu klemben, tape ketan yang dibungkus daun talas, kucur, ketan bubuk disajikan warga menjelang jam 7 malam.

Festival kopi diadakan di sepanjang jalan Desa Adat Kemiren Banyuwangi. Sekitar pukul 19.00 WIB, Festiwal Sepuluh Ewu Cangkir Kopi ini dimulai. Tidak ada acara resmi pembukaan, hanya jalanan yang sudah mulai ramai dengan pengunjung festival ini. Malahan pembukaan resmi saat tengah-tengah acara sedang berlangsung, sekitar pukul 20.00 WIB dihadiri Bupati Banyuwangi, Bapak Abdullah Azwar Anas untuk memberi sambutan dan mengucapkan selamat kepada masyarakat Kemiren atas jalannya Festival ini. Sayangnya kita berdua tidak sempat mengikuti moment tersebut karena harus segera balik ke Bali.

Festival ini tidak hanya menyajikan kopi tetapi juga menampilkan kesenian warga. Barong cilik, permainan gamelan, pembacaan serat lontar yang tidak ditampilkan setiap saat, bisa kami nikmati malam ini. Ada satu lagi yang mencuri perhatian kami, perabot vintage milik warga. Setiap warga menggunakan 1 set teko & cangkir, toples makanan, meja, kursi vintage. Teko dan cangkir keramik yang digunakan warga juga khas, terdapat ornamen bunga-bunga. Seandainya kami bisa membawa pulang barang-barang vintage ini.. 🙂

Saat festival ini juga ada warga yang menjual kopi hasil produksi olahan warga lokal yaitu Kopi Jaran Goyang. Tidak terlalu mahal juga harga yang ditawarkan, hanya Rp. 7.000,- per 100 gr nya. Kopi ini salah satu hasil dari olahan asli warga Desa Adat Kemiren yang bisa dibanggakan, rasanya enak dan tidak terlalu gosong… Yah kalau kami lebih memilih meminum kopi seperti ini, Kopi Nusantara daripada kopi sachet dari pabrikan.

Kami berjalan menikmati festival ini berbarengan bersama Romo Catur. Seorang Romo yang sedang bertugas di Banyuwangi sebagai kepala sekolah SMA, dan beliau juga bertugas di gereja Katolik disana. Kami bisa menikmati suguhan sepuas kami tanpa membayar sepeser pun. Gratis… Seringkali kami ditawari warga untuk mampir menikmati kopi dan camilan, tapi kami gak mungkin mampir di setiap rumah.

Festival yang sangat menarik bagi kami, mengajarkan kesederhaan dan kebersamaan, semua warga dari Kemiren dan pengunjung dari luar Kemiren saling bercengkrama tanpa batas. Festival ini mempererat rasa persaudaraan, mengenalkan kebudayaan dan kesenian Osing yang dilestarikan warga Kemiren. Semoga acara seperti ini akan terus berlanjut di tahun tahun berikutnya. Semakin banyak kesenian yang ditampilkan. Jangan lupa bawa air putih & kosongkan perut sebelum datang ke festival ini.. 😀

Advertisements

One response to “Desa Adat Kemiren dan Ngopi 10.000 (Sepuluh Ewu) Cangkir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s