ke”SENYAP”an di Taman baca Kesiman

Sengaja… film Senyap ini diputar pada Hari Rabu tanggal 10 Desember 2014 secara serentak di beberapa kota di Indonesia untuk memperingati hari HAM international yang jatuh pada tanggal yang sama. Film Senyap adalah film kedua dari seorang sutradara asal Denmark, Joshua Oppenheimer yang mengangkat tentang tragedi 1965 yang terjadi di Indonesia. Film pertama dari Joshua Oppenheimer “The Act of Killing” pada tahun 2012 juga menyita perhatian dunia dan bukan hanya rakyat Indonesia, film dokumenter ini juga mengangkat topik yang sama dengan film Senyap dengan garis besar cerita dari sudut pandang pelaku pembantaian. Pengungkapan fakta tragedi 1965 yang selama ini berbeda dari versi yang banyak digembor-gemborkan pemerintah kita, itulah yang membuat film ini menjadi sangat menarik bahkan mencengangkan, termasuk saya.

Sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA dan Taman baca Kesiman sudah dipenuhi dengan berbagai macam pengunjung yang tertarik dengan pemutaran film Senyap. Ada beberapa crew taman baca yang sedang sibuk mempersiapkan kursi untuk para pengunjung, kantin milik taman baca juga sudah sesak dengan beberapa antrian pengunjung yang hanya sekedar memesan minuman sebagai teman untuk menonton. Pukul 18.30 WITA film belum juga dimulai karena masih tetap menuggu pengunjung yang masih belum datang ke lokasi. Barulah pukul 19.00 WITA pembawa acara mulai membuka acara dengan singkat dan langsung disambut dengan kelegaan pengunjung yang sudah cukup lama menunggu karena film Senyap segera dimulai… Yah karena memang acara sudah molor 1 jam juga…

Ramli, adalah seorang korban pembantaian pada tragedi 1965 yang dikenal dengan peristiwa pemberontakan G30S-PKI. Deli Serdang dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara dimana latar belakang film ini diambil. Lokasi lokasi perkebunan, rumah rumah sederhana yang ada di desa, jalanan yang masih banyak berlubang serta logat Jawa yang kental menggambarkan suasana Sumatera Utara adalah daerah yang masih berkembang dan banyak transmigran dari Jawa yang sudah lama tinggal disana. Pada jaman itu mungkin banyak terjadi transmigrasi untuk meratakan penyebaran penduduk di Indonesia.

Scene pertama menunjukkan kehidupan dari orang tua Ramli, yg merupakan salah satu seorang korban pembantaian dalam tragedi 1965. Keduanya terlihat sudah tua renta, bahkan bapak Ramli sudah tidak dapat berdiri dan terantung dari kursi roda yg dia pakai sehari harinya, sedangkan ibu Ramli meskipun terlihat tua tetapi masih terlihat masih tetap kuat dan terkesan tegas dari beberapa lontarannya dalam film ini. Bapak Ramli berumuran sekitar 140 tahun, sudah sangat sulit untuk diajak berbicara dan hanya bisa duduk di kursi roda, penglihatan dan pendengaran sudah sangat berlurang, tanpa menggunakan pakaian hanya selembar kain yang menutupi setengah tubuhnya. Kurus, hanya tinggal tulang dan kulit yang nampak dan sering bergumam tidak jelas yang terdengar dari mulutnya.

Tokoh utama disana adalah Adi Rukun… adik dari Ramli, melakukan perjalanan menemui para pelaku pembantai an kakaknya, dengan berbagai pertanyaan yang adi dibenaknya untuk mecari pembuktian fakta. Ada sekitar 8-10 orang (pastinya saya lupa) yang berhasil dia temui yg ditayangkan dalam film ini. Diantara para pelaku pembataian tersebut hanya ada 2 orang yg menyatakan permintaan maaf kepada Adi Rukun, itupun anak dan istri mereka yang mengucapkan permintaan maaf, selebihnya hanya menceritakan kejadian pembantaian tersebut tanpa ada rasa penyesalan sama sekali. Miris… melihat wajah Adi Rukun yang selalu dingin dan datar sepanjang film,  karena langsung berhadapan dengan sang pelaku pembantaian kakak nya sendiri tetapi masih sempat beberapa kali tertawa  dalam film ini saat bercanda dengan anaknya dan juga berbincang dengan ibunya, meskipun wajahnya waktu itu malah menggambarkan kesedihan yang semakin mendalam.

Sungai Ular adalah tempat dimana pembantaian masal ini terjadi, disebutkan semua mayat yang telah dibantai dibuang, ditendang ke Sungai Ular itu. Setelah korban digorok lehernya, para pelaku mengambil gelas dan menampung darah yang keluar dari leher korban, ngerinya lagi mereka meminum darah itu… katanya kalau setelah membantai harus minum darah korban supaya tidak menjadi gila atau stress, perbuatan yang sangat keji. Sempat disebutkan juga bahwa setelah tragedi itu, ikan air tawar hasil dari sungai tersebut sama sekali tidak laku di pasar, karena masyarakat takut dan jijik terhadap ikan dari sungai itu karena pasti mereka telah bercampur dengan bangkai manusia atau bahkan memakannya.

Scene demi scene film dilalui, semakin mendalam cerita yang tersampaikan kepada para pengunjung malam itu. Cukup panjang juga film ini, kurang lebih 100 menit. Tetapi para pengunjung sama sekali tidak ada yang beranjak pergi, karena memang sangat menarik. Pengungkapan fakta sejarah yang sebenar-benarnya ada di hadapan kami. Terlihat beberapa pengunjung sedang konsen dengan film ini, sedikit terdengar bisik-bisik karena berdebat kecil dengan teman. Ada sekitar 200 pengunjung pada malam itu. Terlihat putung rokok dari seorang pengunjung yang menumpuk saat menyaksikan film ini.

Terasa gerah udara malam waktu itu karena memang beberapa hari ini tidak turun hujan. Waktu menunjukkan pukul 20.30 WITA memasuki sesi diskusi, lalu turunlah hujan… Baguslah, cukup membuat suasana menjadi segar dan cair kembali… sedikit berlarian mencari tempat teduh dan menyelamatkan cangkir kopi dan botol bir masing masing. Diskusi kali ini menghadirkan pembicara Alit Ambara seorang seniman dengan poster sebagai ciri khas karyanya sering dikenal sebagai Nobodycorp. Internationale Unlimited dan Nug Katjasungkana seorang aktifis HAM. Sebelumnya itu, ada sesi perbincangan dengan sang sutradara, Joshua Oppenheimer yang sedang berada di Denmark via Skype. Ada beberapa pengunjung yang sempat melontarkan beberapa pertanyaan langsung kepada sang sutradara. Sayangnya koneksi internet di Indonesia memang belum cukup bagus untuk melakukan voice chat seperti itu, sehingga sempat beberapa kali perbincangan dengan Joshua Oppenheimer terputus.

Film ini membawa kita kembali ke masa lampau yang kelam, tapi membuka wawasan kita tentang fakta sejarah yang sebenar-benarnya. Sejarah itu penting sebagai landasan sebuah negara untuk terus berjalan. Sejarah tidak boleh dilupakan atau bahkan dibelokkan seperti yang terjadi sekarang ini di negara kita. Semoga dengan film ini, masyaratkat dan para penggerak negara semakin terbuka dan mau mengakui kesalahan yang telah dibuat dalam masa itu.

Advertisements

One response to “ke”SENYAP”an di Taman baca Kesiman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s