Kesejukan Wonosari dan Keramahan Pemetik Teh

Libur natal tahun ini di Malang sangat singkat. 1 minggu masih kurang bagi kami. Banyak tempat yang ingin kami kunjungi, mulai daerah gunung sampai pantai… Kemaruk???!!! ­čÖé Akhirnya beberapa rencana trip gagal total. Hari-hari kami disibukkan dengan persiapan natal di rumah, beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada satu trip yang tidak boleh gagal, Kebun Teh Rolas Wonosari milik PTPN XII… Tidak boleh gagal karena persediaan teh mulai menipis & kami harus┬ápunya trip terakhir di 2014. ­čÖé

Sebelum malam Natal, 24┬áDesember kami putuskan untuk berangkat ke Kebun Teh jam 4 pagi… Ferdi mau┬áhunting foto & dapat moment sunrise di sana. Dia ingin mengulang moment itu┬ákarena┬áfoto-foto sunrise di Kebun Teh beberapa tahun silam hilang bersama hard disk yang rusak. Saya tidak yakin akan berangkat jam 4 pagi.. Lebih tepatnya, tidak yakin Ferdi bisa bangun pagi jam 3 apalagi Malang sedang dingin. Perkiraan saya tepat. Saya baru benar-benar bangun jam 5.30, dan Ferdi baru bangun sekitar jam 6. ­čÖé

Setelah sarapan dan ribet ini itu, kami meluncur ke Kebun Teh jam 8 pagi. Langit sedikit mendung.. Kami sempat khawatir pagi ini akan turun hujan. Jalan ke arah Lawang masih cukup lenggang. Sekitar jam 9 kami sampai di Kebuh Teh dan langsung ke area agrowisata. Hamparan tanaman teh menyegarkan┬ámata kami. Udara pagi ini masih┬ásejuk. Syahdu sekali tempat ini. Belum┬áterlihat aktivitas para pemetik teh. Sayang sekali Gunung Arjuno tampak samar-samar karena langit mendung dan kabut sesekali turun…

Saat kami berjalan-jalan di antara hamparan teh, Ferdi menemukan apa yang dicari.. Para pemetik teh. Yeaayyy.. Dalam hitungan detik, dia sudah bersama mereka. Saya hanya mlongo ditinggal Ferdi. Ferdi asik becanda dengan para pemetik teh sambil sesekali memotret aktivitas mereka. Dari kejauhan kami tidak bisa membedakan mana pemetik teh yang pria dan wanita karena mereka memakai pakaian “dinas”. Pakaian “dinas” pemetik teh yaitu celana dan baju lengan panjang, kain seperti sarung dengan banyak kantong,caping dicat warna biru,┬átopi, dan┬ákerudung. Lucu sekali melihat bapak-bapak memakai kerudung, tetapi mereka cuek saja. Ibu-ibu pemetik teh meskipun bekerja di bawah terik matahari, tetapi mereka tetap┬átampil cantik dengan menggunakan lipstik. Mereka bekerja dengan sesekali becanda untuk memecah kebosanan tapi itu tidak mengurangi kecepatan┬átangan mereka memetik daun teh.

Saat sedang asik ngobrol dengan mereka, tiba-tiba datang truk full music dengan tutup terpal orange. Para pemetik teh segera menuju truk dengan membawa karung-karung berisi daun teh. Aktivitas penimbangan dimulai. Ada seorang Mbak dan seorang mandor yang bertugas mencatat berat karung setiap pemetik teh dan upah yang akan diterima. Pemetik teh rata-rata memetik sekitar 20-30 kg setiap hari. Jika musim kemarau, rata-rata mereka hanya mendapatkan sekitar 10 kg teh. Setiap karung kemudian dimasukkan ke dalam truk dan dibawa ke pabrik untuk diolah. Sayang sekali kami tidak bisa masuk ke dalam pabrik karena harus mengurus perijinan.

Lelah berjalan kaki berkeliling kebun teh, kami berjalan menuju toko teh Rolas. Toko ini menjual berbagai variasi teh Rolas, black tea, green tea, white tea. Harga paling mahal white tea 10 gram harganya 60rb, tapi rasanya paling enak. Di sini juga menjual kopi dari perkebunan kalibaru Banyuwangi milik PTPN XII; Kopi arabica, robusta, blend, dan yang paling terkenal Kopi Lanang. Harga teh dan kopi di sini bersahabat dengan isi dompet. Jika ingin langsung menikmati seduhan teh dan kopi Rolas bisa langsung menikmati di tempat makan Rolas.

Bagi kami yang setiap hari┬ámenikmati teh, kami lebih suka menikmati teh dari perkebunan seperti Kaligua, Rolas, dll. Menurut kami,┬ásetiap perkebunan teh mempunyai rasa teh yang berbeda dan khas. Kami lebih sering┬ámenikmati black tea karena kami bisa menambahkan cengkeh, kayu manis, atau rempah-rempah lain. Jika green tea ditambahkan rempah-rempah, rasa khasnya menjadi hilang & aneh menurut lidah kami. ­čÖé

Tetapi kadang kami miris saat menikmati teh. Teh kualitas terbaik dari setiap perkebunan akan diekspor dan teh dengan kualitas yang kurang baik akan dijual di Indonesia. Jangan heran jika teh dari negara lain rasanya sangat enak. Jangan-jangan yang kita minum itu sebenarnya teh dari Indonesia. Semoga suatu saat masyarakat Indonesia bisa menikmati teh Indonesia dengan kualitas terbaik. Semoga nanti kami bisa menikmati teh-teh lainnya langsung di perkebunan..

Advertisements

One response to “Kesejukan Wonosari dan Keramahan Pemetik Teh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s