Kehangatan Keluarga OLI : Ocean Of Life

Pantai…

Tempat yang selalu saya rindukan. Tempat yang membuat saya ingin kembali kembali dan kembali lagi.

Kali ini saya bersama mas Satria, mas Adin, Mimit ingin menikmati lagi pantai daerah Gunung Kidul setelah sekian lama saya tidak menyapanya dan sejak penelitian saya selesai.. Sekarang saya datang lagi tanpa beban dan rindu yang sudah sampai ubun-ubun. Pilihan jatuh ke pantai Watu Kodok. Pantai yang tidak terlalu ramai wisatawan. Masih asik untuk “nyepi”. Saya beruntung sekali karena keluarga Ocean Of Life (OLI) (Mas Bintang, Mbak Ani, Sang, Ken, Theo, dan Mas Thomas) mempersilahkan kami bermalam di “rumah” mereka. Rumah jawa yang artistik & ramah lingkungan, keceriaan & kehangatan keluarga OLI, makanan sehat, suara ombak, biru laut, dan hijau tanaman pertanian bikin betah untuk tinggal lama di sini. Jauh dari peradaban. Jauh dari koneksi internet.

Liburan ini bukan semata-mata untuk bersenang-senang, tetapi untuk saling berbagi dengan teman-teman OLI tentang banyak hal. Perubahan warna langit dari waktu ke waktu menjadi teman kami saat berdiskusi. Diskusi tentang pantai, pertanian natural, pariwisata, pendidikan lingkungan, kegiatan-kegiatan lingkungan.

Saat surut, kami turun ke beberapa pantai di sekitar OLI untuk mengamati hewan-hewan pantai karang dan rumput laut. Mengamati perilaku wisatawan, kegiatan masyarakat lokal di pantai yang memanen bulu babi, & rumput laut. Puas mengamati bermacam-macam biota pantai, kami pulang ke rumah OLI sambil menikmati suasana sunset.

Waktunya mengisi perut.. Kami saling membantu mengolah & menyiapkan makanan. Makanan lokal yang sederhana, tapi enak dan sehaattt.. Rumput laut yang kami ambil secukupnya dari pantai disulap jadi Oseng Rumput Laut. Rawis = Traditional Raw Food from Gunung Kidul.. Oseng terong & kulit buah melinjo. Sayur daun kelor. Semua makanan LUDES kami santap tak bersisa.

Di OLI, lidah kami dimanjakan dengan minuman lokal & sehat. Teh.. Kopi.. Es markisa dan timun suri, warga lokal menyebut timun krei. Es buah pandan laut. Teh Bunga Telang..

Mengunjungi OLI kali ini, ada kegiatan menarik. Menjelajah wilayah desa terdekat dengan Pantai Watu Kodok, Desa Kelor. Kami dari OLI ber-7 (saya, mas Satria, mas Adin, Mimit, Theo, mas Bintang, mas Thomas), 4 orang warga desa lokal. Kami mulai tracking jam 10 pagi sampai jam 17.30. Panjang track sekitar 15 km.. Perjalanan yang Menyenangkan dan cukup melelahkan. 🙂 Track melewati area pertanian di kawasan karst milik warga, hutan, gua grengseng. Sepanjang perjalanan, warga lokal menjelaskan jenis-jenis tanaman lokal yang biasanya mereka konsumsi. Mulai dari jenis padi-padian seperti ketan sampai buah-buahan seperti buah ciplukan, sirsat, jeruk bali lokal Gunung Kidul, dan semangka. Semangka di kawasan karst?? Ya.. Ada petani setempat yang menanam semangka dan timun krei / timun suri di lahan pertanian. Ukuran semangka kecil, lonjong, buah tidak terlalu merah, bijinya banyak, warna buah tidak terlalu merah, tapi rasanya Manis dan Segar.. Semangka ini Mood Booster di tengah-tengah perjalanan panjang.

Sepanjang perjalanan ada kegiatan menarik yang dilakukan warga. Berburu Belalang pohon jati. Peralatan sangat sederhana: tongkat bambu, lem tikus, botol plastik. Berburu belalang ternyata tidak mudah, butuh ketepatan & kesabaran. Kalau kita grusa-grusu (terburu-buru) belalang segera terbang. Belalang kali ini sangat banyak. Lantai hutan jadi toilet belalang karena banyak sekali kotorannya. Kalau belalang sedang buang kotoran di daun-daun pohon suaranya seperti suara rintik hujan. Belalang menjadi makanan khas & sumber protein bagi warga Gunung Kidul. Belalang diolah jadi oseng-oseng, bacem, dll. Rasa belalang enak, gurih. Tapi hati-hati bagi yang belum pernah makan belalang karena bisa menimbulkan alergi. Protein tinggi, zat kitin dari kulit belalang adalah salah satu penyebab alergi. Perburuan belalang kali ini tidak banyak.. Karena kami amatiran dan tidak benar-benar niat berburu belalang..

Sampai di rumah OLI kami langsung beristirahat sambil menyantap beberapa makanan yang kami bawa saat tracking, nangka dan oseng belalang sisa makan siang di rumah warga. Sunset mulai datang, warga setempat kembali ke desa Kelor. Mbak Ani, Mbak Ira, Sang, dan Ken juga baru datang dari Jogja. Langit mulai gelap. Kami makan malam di Pantai Sundak di warung mas sigit langganan keluarga OLI. Menu sederhana udang asam manis & lalapan daun pepaya, terasa mewah, karena disantap dengan cerita-cerita seru sepanjang tracking tadi siang. Setelah makan malam, kami melanjutkan diskusi di rumah OLI.

Sayang sekali malam ini saya, mas Satria, mas Adin harus kembali ke Jogja. Jam 11.00 malam kami berangkat ke Jogja. Jam 1 dini hari kami sampai di rumah masing-masing. Kaki masih terasa lelah, diskusi yang belum selesai. Kami pulang ke jogja dengan membawa banyak PR yang harus dibagi untuk keluarga OLI. Tapi kami juga mendapat banyak pengetahuan & pengalaman selama di OLI. Suasana pagi hari di OLI, suara ombak, langit biru, suara burung masih terasa diingatan saya. Saya akan merindukan suasana di OLI & pantai.. Saya akan kembali ke OLI dan pantai Watu Kodok untuk menyelesaikan PR 🙂

Selengkapnya tentang Ocean Of Life http://www.oceanoflifeindonesia.org/.

Advertisements

One response to “Kehangatan Keluarga OLI : Ocean Of Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s